Rabu, 21 Maret 2012

Antara Akreditasi Sekolah dan Mutu Layanan Prima Sekolah , Value Action for Learning Change


Case Study 


Pendidikan di Cina di arahkan agar dapat mengembangkan pada peserta didik memiliki sikap social dalam bentuk pengabdian sosial. Model indivi di ideal di cina adalah individu yang dapat mendedikasikan dirinya untuk membangun masyarakt baru di CIna..Pengabdian social pada masyarakat dapat dilakukan dalam bentuk kerelaan berkorban atau pengorbanan diri dan kerja keras.( Philip G Albach dkk)

Pendidikan Di India ,mulai pada jenjang dasar ,menengah ,maupun tinggi ,pendidikan dI India menonjolkan kesederhanaan .Secara fisik , bangunan maupun infrastruktur pendidikan di negeri tersebut memiliki kondisi  sederhana bahkan dapat disebut memprihatikan.Namun dari segi mutu ,pendidikan tinggi di India relatif menonjol.Banyak  perguruan tinggi  di India memiliki reputasi internasional.Beberapa  institusi  Indian Institude  of Technology (IITS ) telah diakui dunia akan standar pendidikannya.  (Arif Rohman ,pendidikan komparatif )


Lifelong Learning C21st,concept


Concentrate on academic and personal success of allpupils as means of enhancing the school’s reputation and satisfying society ‘s need . Invites the public to share in it.


Abstract

Kementerian  Pendidikan Nasional  (Kemendiknas ) dan Kementerian Agama (Kemenag ) telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalaui pelaksanaan Sistem Penjamin Mutu Pendidikan  (SPMP) sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Nomor 63 Tahun 2009. SPMP  mendefinisikan penjamin mutu sebagai kegiatan sistemik dan terpadu  oleh satuan /program pendidikan,penyelenggara satuan program pendidikan,pemerintah daerah ,pemerintah dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan . Buku Panduan Bos 2011-2012.

Sedangkan  dasar hukum Akreditasi Sekolah adalah :Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 60, Peraturana Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 86 & 87 dan Surat Keputusan Mendiknas No. 87/U/2002.

Akreditasi sekolah mencakup penilaian terhadap sembilan komponen sekolah, yaitui (a) kurikulum dan proses belajar mengajar; (b) administrasi dan manajemen sekolah; (c) organisasi dan kelembagaan sekolah; (d) sarana prasarana (e) ketenagaan; (f) pembiayaan; (g) peserta didik; (h) peranserta masyarakat; dan (1) lingkungan dan kultur sekolah.. Achmad Topan
Implementation Strategic


Mutu pelayanan prima pendidikan merupakan variable penting yang sangat  menentukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia Sekolah memegang peranan penting seebagai pelaku utama penjamin dan peningkatan mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan.Melalui lembaga pendidikan yang berkualitas  akan mencetak siswa –siswi yang memiliki life skill dan daya saing.Sedangkan  Mutu Layanan Prima yang memberikan kepuasan balajar siswa bukan sekedar persoalan perencanaan dan penganggaran Sekolah /Madrasah  ,melainkan  terpenuhinya Standart Nasional Pendidikan.

Akreditasi sekolah bukan soal penilaian adminitrasi sesuai standart yang berlaku .Melainkan penentuan kualitas kinerja sekolah secara komprehensif yang dapat membangun Brand Sekolah dari sisi  performance sekolah menghasilkan mutu lulusan yang dapat diandalkan.Meskipun kenyataan dilapangan  ,sekolah dengan akreditasi yang sangat bagus belum menjamin sepenuhnya masa depan karir pendidikan lulusan nya.Dengan kata lain adakah assurance  dari mutu akreditasi terhadap mutu lulusan yang merupakan akibat dari proses pendidikan disekolah bersangkutan.

Menurut hemat penulis ,sekolah yang bermutu  memiliki daya tarik  yang tinggi dan sekaligus image yang kuat  dari sisi siswa dan masyarakat.Sedangkan sekolah yang bermutu adalah sekolah yang  berpengalaman memberikan pemberdayaan siswanya melalui  proses kegiatan belajar mengajar yang berkembang sesuai tuntutan zaman. Sehingga alumni merasakan kemanfaatan setalah mengikuti pendidikan disekolah bersangkutan.Inilah beberapa tipe sekolah dalam membangun “Brand -Recognation” dari “konsumennya”.


Case Analysis  


Pertama , Support Resource


Sekolah dengan Standart  Pelayanan Pendidikan  Nasional Yang Sudah terpenuhi

Standar yang dimaksud adalah standar Isi,Proses .Kompetensi Lulusan ,pendidik dan tenaga kependidikan ,sarana Prasarana,pengelolaan ,pembiayaan dan penilaian,sudah sangat memadai. Secara kuantitif maupun kualitatif.Dengan demikian mereka tidak terlalu  disibukkan dengan bagaimana memberikan pelayanan pendidikan secara optimal lantaran didukung oleh resource yang sudah kuat. Sekolah yang sudah memenuhi kriteria tersebut semestinya harus berhasik kompetensi ,talenta dan karakter yang optimal dari siswanya.Sekolah dengan akreditasi yang mendekati sempurna semestinya dapat menarik minat masyarakat ,dunia industry dan instansi lainnya untuk bekerja sama sebagai mitra sekolah. Sehingga akreditasi adalah juga merupakan penilaian nyata ,masyarakat pada umumnya. Tercermin dari mutu performance penyelenggara sekolah bersangkutan.


Kedua, Inovative “Curriculum

Sekolah  yang memiliki pengembangan kreatifitas dan inovasi yang berkesinambungan .Mereka memang selalu unggul dibandingkan dengan sekolah akreditasi yang sama atau diatasnya.Keunggulan mereka mungkin tidak terletak pada sarana dan prasarana ,melainkan pada mutu proses pelayanan prima dan mental attitude para guru. Guru memiliki kecakapan yang memadai ,kompeten dan menguasai bidang ilmunya serta mengenali dan menumbuh kembangkan ,kompetensi, talenta  dan karakter siswa . Sehingga siswa menjadi lebih bahagia dan bersemangat belajar. Sekolah lebih berpihak kepada input yang uncredible source untuk dicetak menjadi siswa yang credible source sampai menjadi spiritual source.

Sekolah tersebut terukur dari efektifitas kegiatan pembelajaranny sehingga memberikan kepuasan belajar siswa,kemudahan siswa menyerap mata pelajaran,semangat dan kebahagiaan siswa dalam belajar  serta dapat mendorong siswa untuk memperdalam dan meningkatkan prestasi akademik dan non akademik yang diraihnya.

Berdasarkan pengamatan saya sekolah yang diburu masyarakat adalah yang dapat  memberikan kepuasan memenuhi kebutuhan pendidikan anak nya secara optimal sebagai manusia seutuhnya .Terutama kompetensi real akademik,kecakapan hidup dan karakternya baik selama menjalin proses pendidikan dan  setelah lulus nanti. Adapun saat ini dan di masa depan dengan semaiki beragamnya kebutuhan dan tuntutan “konsumen “ sekolah tidak hanya boleh terjebak oleh “administrasi “ akreditasi .Dikarenakan konsumen tidak terlalu mengerti arti akreditasi ,proses selama siswa itu menjalani pendidikan dan “ketangguhan” mutu alumni yang akan menjadi pertimbangan .


Pentingnya akreditasi menyesuaikan berdasar kebutuhan”pasar ‘ harus disertai evaluasi kemampuan sekolah dalam mewujudkan visi-misi  pengembangan mutu proses layanan pendidikan dan mutu lulusannya. Seharusnya system akreditasi sekolah bukan hanya menggunakan ukuran kelengkapan dari syarat yang ditentukan,melainkan juga mutu pelayanan prima sekolah bersangkutan. Kenyataan seseorang yang menyelokahkan anaknya tidak terlalu berorientasi pada akreditasi  ,bahkan tidak perlu tahu akreditasi sekolah,melainkan “gaung” proses pelayanan pendidikan   dan mutu alumninya. Seyogya nya sebaliknnya bagi sekolah yang mendapatkan puncak akreditasi tentunya dapat memberikan jaminan mutu proses pelayanan pendidikan dan kualitas mutu lulusannya.


Paradigma tentang akreditasi sekolah saat ini dan masa depan sekolah semestinya tidak hanya mengukur  kelengkapan syarat akreditasi secara kuantitaif dan kualitatatif ,melainkan juga kepuasan belajar siswa,kepuasan masyarakat , efektifitas pelayanan prima pendidikan dan kepedulian sekolah dalam meningkatkan inovasi pembelajaran berbasis kebutuhan dan kepentingan terbaik siswa.

 Meskipun penentuan akreditasi   sekolah dilakukan secara normative,namun pada kenyataan nya  masih dijumpai kelemahan . Wilayah Indonesia sangat luas dan memiliki keberagaman  serta diversitas .  Itulah sebabnya akreditasi semestinya juga mengukur dan menilai pelayanan prima sekolah dalam penyelenggraan proses pendidikan untuk kepentingan terbaik peserta didik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar