Sabtu, 28 Mei 2016

Mengintip Desain Sekolah Juara Olimpiade Internasional



Kualitas dan kinerja sekolah bukan hanya dinilai dari internal sekolah, audit kelembagaan atau opini masyarakat melainkan pada kinerja penyelanggaraan pendidikan yang berkaitan dengan prestasi pada olimpiade internasional.

Peran penyelenggara pendidikan saat ini kian menantang karena ekuitas sekolah (brand equity) diukur dari kemampuan dan daya saing peserta didik dikancah kompetisi khususnya internasional.   Potensi sekolah yang memiliki daya saing dalam kancah kompetisi  tergantung dari imajinasi dan kompetensi pendidik dalam mengantarkan prestasi peserta didik.

When we move from individual learning  to organization learning, there is  a disproportionate increase in the complexity of the process... Organizational learning is seen as more than a sum  of individual learning. ..It is rather the result  of capabilities embedded in the whole team playing in unison. Peter Senge The Fifth Discipline

Dari pengalaman saya bertemu dengan sekolah sekolah yang telah sukses meraih prestasi internasional, setidaknya dapat saya gambarkan sebagai berikut:  

Jumat, 27 Mei 2016

MBS Efektif : Design Optimalisasi Hasil Diklat Bagi Pendidik


Kank Hari Santoso,
 Praktisi , Konsultan dan Motivator Peningkatan Mutu Pendidikan Indoesia 
 “ Kami sih tidak iri kalau hanya itu itu saja yang berangkat training dikirim sekolah..!”

“ Percuma kita ikut pelatihan , jika sampai disekolah tida dapat diterapkan..!  

“ Kalau Mas Hari hitung mulai dari tahun ono sampai kini sudah berapa banyak guru yang ikut training hasil nya mutu pendidikan kita ya begini begini saja..!”

Jika saya tuliskan semua keluhan bapak dan ibu guru , persepsi tentang training /pelatihan pendidikan dengan beragam jenis mulai dari seminar , pelatihan workshop dan sejenisnya bisa berlembar lembar.

Kamis, 26 Mei 2016

Matrik Desain Kerjasama dengan Ortu/Wali Murid Cegah Kenakalan Remaja Pada Peserta Didik


Kank Hari  Santoso ,
Praktisi Konsultan dan Motivator Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia
Masih banyak orang tua yang berprinsip bahwa urusan pendidikan adalah urusan sekolah sehingga  memilih sekolah yang dianggap paling bagus selanjutnya menyerahkan begitu saja  pendidikan anaknya kepada sekolah, bahkan tidak jarang orang tua baru ambil peduli ketika anaknya mengalami atau mendapatkan “hukuman “ dari sekolahnya.

Begitu juga pihak sekolah beranggapan lebih baik berfokus pada pelaksanaan kurikulum sebagaimana tuntutan peraturan saja dan menjalankan proses pembelajaran sebagaimana mestinya, serta menghasilkan mutu out put dengan prestasi akademik yang membanggakan saja  . Daripada jika harus menegakkan  disiplin membangun karakter beresiko berurusan dengan pihak yang berwajib jika “lose of control” dalam pelaksanaannya. Padahal masyarakat terlanjur percaya bahwa dengan bersekolah diharapkan anak menjadi lebih baik mutu kompetensi dan akhlaknya.

Selasa, 24 Mei 2016

Matrik Desain Pembelajaran Efektif K13 Berbasis Kepentingan Prestasi Terbaik Peserta Didik



Kank Hari Santoso,  Praktisi
, Konsultan & Motivator Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia   
 Guru hanya  memberi tugas , banyak jam kosong , kasih tugas habis perkara dan siswa diharapkan mendapatkan sendiri “jawaban “dari ilmu yang dipelajari dengan alasan metode inquiry.  Merupakan perkembangan pelaksanaan  K13 dengan dampak yang dihadapi siswa , orang tua dan persepsi masyarakat. Serta  Ujian Nasional ( Dengan Materi Ujian Kurikulum Lama )  maupun Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SBMPTN) tidak menggunakan metode K13, sehingga lebih membuat subur kepercayaan masyarakat kepada LBB untuk masa depan karir akademik anak kesayangan.

   Semestinya menjadi perhatian para pendidik untuk mendesian strategi pembelajaran yang berbasis pada kepentingan  prestasi terbaik siswa .

Berikut cara mendeteksi keterbatasan penerapan K 13 sekaligus solusinya:

Matrik Desain Membangkitkan Motivasi Prestasi Peserta Didik

Kank Hari Santoso,
Praktisi, Konsultan Dan Motivator Peningkatan Muru Pendidikan Indonesia 

Beberapa fakta yang terjadi, banyak peserta didik  yang berpotensi menghasilkan prestasi  ternyata justru frustrasi dikarenakan minat dan keberbakatannya tidak terakomodasi di sekolahnya. Dari banyak pengalaman saya selaku konsultan  dan motivator pendidikan yang bertemu ribuan  guru serta ratusan sekolah dan siswanya.  Sekolah hanya terfokus pada capaian nilai akademik sebagai “Program Unggulan Sekolah dan Pencitraan Publik”.

Melihat permasalahan seperti ini, maka diperlukan upaya strategis bagaimana membangkitkan motivasi berprestasi  peserta didik.  Seperti halnya sekolah sekolah yang telah saya kunjungi lengkap dengan beragam prestasi termasuk prestasi akademik sekolah bersangkutan.  Mereka memiliki strategi peningkatan mutu peserta didik.

 Untuk memudahkan cara membaca upaya membangkitkan  motivasi prestasi peserta didik berikut matriknya

Senin, 23 Mei 2016

Matrik Desain Pembiasaan Mental Juara Pada Peserta Didik


Kank Hari  Santoso, Praktisi Dan Konsultan Kehumasan Sekolah
“Kank , bagi kami soal pengetahuan  akademik dan keterampilan kerja bukanlah hal sulit untuk dilatihkan tetapi , menemukan karyawan yang berbudaya kerja professional  dan bermental juara itu yang lebih kami butuhkan , betulkah sekolah telah membagun karakter itu ..” Kata Seorang Manager Perusahaan Consumer Good kepada saya

Saya menjawab, mungkin tapi tidak semua ..!”

 Selanjutnya, Saya mencoba membuka catatan  materi tentang Pelatihan Kehumasan Sekolah tentang membangun Integritas dan Citra Sekolah Unggul  yang saya bawakan pada workshop tersebut . Kurang lebih seperti ini:
1.       Deskripsi tujuh perilaku yang harus dikembangkan disekolah
2.       Indikator keberhasilan
3.       Peserta didik sebagai subjek sasaran
Supaya mudah dimengerti saya susun  berikut ini :

Jumat, 22 April 2016

Praktek Kehumasan Sekolah : 3 Manfaat Ketika Bank Menjadi Mitra Pembelajaran Siswa. Case Study : SMAN 3 Bojonegoro


 Beberapa “petugas” bank seperti teller dan Customer Service   sedang menjalankan tugasnya sebagai profesional banker melayani para costumer dan nasabah  yang secara bergiliran datang untuk melakukan transaksi keuangan di sekolah, para nasabah dan profesional banker semuanya adalah para siswa SMA yang menjalankan kegiatan smart school, branchless banking,    Pemandangan menarik ini  saya saksikan di SMAN 3 Bojonegoro, kerjasama antara sekolah dan BTPN cabang setempat. 

 Lantas bagaimana menciptakan “simbiosis mutualisme” ini sekaligus menciptakan pembelajaran life skill bagi peserta didik, dari kacamata saya sebagai motivator dan konsultan kehumasan sekolah Indonesia ada beberapa hal yang dilakukan.